SELAMAT DATANG DI "BULETIN ERGUNA



Tampilkan postingan dengan label Agustus [Tahun 2004]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agustus [Tahun 2004]. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2008

ERGUNA Edisi Agustus 2004

Salam Kami
Salam dalam kasih YESUS
Syalom. Kembali buletin ERGUNA menjumpai saudara terkasih. Mulai terbitan ini buletin mengalami perubahan baik susunan maupun jumlah halaman. Kami bersyukur banyak dukungan kepada kami untuk terus menerbitkan buletin PI ini. Dan kami tetap mengharapkan tulisan berupa ajaran, kesaksian dan lain sebagainya untuk menambah pengetahuan rohani kita. Kami berharap melalui media ini kita tetap dapat saling mendukung. Redaksi juga mengucapkan selamat kepada para majelis yang telah menyelesaikan penataran dengan dukungan doa supaya TUHAN yang terus membimbing dan memberi kekuatan kepada saudara dan keluarga.
Redaksi
JUBAH YANG DIUNDI
Oleh: Vera Ginting

Apakah jubah itu?
Jubah merupakan sejenis pakaian yang fungsinya berbeda jauh dengan pakaian biasa serta tidak sembarang orang memakai jubah. Jubah biasanya dipakai oleh orang tertentu dan pada acara tertentu seperti saat hakim di ruang sidang, hari wisuda, saat pertua, diaken, atau pendeta sedang bertugas, atau saat seorang raja memberi wejangan di depan rakyatnya. Jubah melambangkan kekuasaan, peneguhan jabatan atau orang berilmu. Namun, jubah pula yang menutupi kepalsuan dan kejahatan. Hakim lalimpun kalau sudah memakai jubah terlihat bijaksana. Raja yang jahat akan terlihat berjaya dengan jubahnya. Pertua, diaken dan pendeta durnapun akan terlihat suci dengan jubahnya.
Dalam kitab Perjanjian Lama (PL), jubah imam dibuat dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh Nabi Musa (Keluaran 39). Ketetapannya menyangkut jenis bahan, warna, ukuran, model, siapa yang membuat, bagaimana membuatnya, sampai kapan saat digunakan. Dalam kegiatan keagamaan, jubah imam menjadi salah satu perlengkapan ibadah yang sakral.
Begitu juga dalam pemerintahan, jubah raja menjadi lambang kekuasaan dan kebesarannya. Sebagai imam dan raja damai, apakah semasa hidupnya Yesus memakai jubah? Kalau dilihat pada film “Yesus”.
Kalau direnungkan ulang, ini bukan ejekan, tetapi memang wajib bagi seorang imam menghadap Tuhan dengan pakaian dinasnya, yaitu jubah imam atau raja. Dia akan dibunuh dan mati, berarti Dia akan menghadap Tuhan yang mengutus-Nya ke dunia. Dia harus memakai jubah karena Dia akan menjadi imam pengantara antara manusia dan Tuhan untuk membawa korban pendamaian di Surga.
Belum sampai Surga, jubah itu dirampas oleh prajurit Romawi. Mereka pikir tidak pantas orang disalib memakai jubah. Mereka pikir juga terlalu mahal jubah dinodai dengan darah.
Jubah itu lebih layak diundi saja karena harganya mahal sehingga yang menang pantas mendapatkannya. Prajurit Romawi yang menang undi pantas dapat jubah tanpa membeli atau membuatnya. Ini pun bukan kebetulan.
Yesus menghadap Tuhan bukan seperti imam yang membawa seekor domba yang akan di sembelih. Kalau seperti itu, Yesus akan diminta kembali ke bumi karena tidak menggunakan pakaian dinas. Sampai sekarang, Yesus belum kembali. Berarti Dia sudah diterima di Surga bukan hanya sebagai imam, tetapi sekaligus sudah menjadi persembahan korban pendamaian antara Tuhan dan manusia.

Yesus menyerahkan diri sebagai domba sembelihan yang darah-Nya mengalir untuk menebus dosa manusia. tanpa pengesahan dari manusia. Oleh karena itu, Yesus tidak perlu memakai jubah di kayu salib. Yesus menghadap Tuhan tanpa jubah, tanpa kekuasaan, tanpa kekayaan, tanpa pengesahan dari manusia.
Tetapi, Yesus kaya dengan hati yang mengampuni, hati yang mau berkorban, hati yang penuh cinta kepada pengikut-Nya.
Yesus memberi gambaran sesungguhnya bahwa menghadap Tuhan tidak perlu dengan jubah yang melambangkan jabatan dan penguasaan Taurat dan ilmu di dunia.
Oleh karena itu, kita datang kepada Tuhan harusnya selalu apa adanya, tidak ditutup dengan jubah yang mungkin kualitas hati dan perbuatan tidak sesuai dengan tuntutan jubah yang digunakan.
Yesus disalib tanpa jubah, Yesus menghadap Tuhan tanpa pakaian dinas imam. Tetapi, kualitas hati dan perbuatan-Nya tidak bercela alias sempurna. Bagaimana kita menghadap Tuhan selama ini? Adakah kita memakai jubah kekuasaan atau kekayaan? Atau jubah kepalsuan dan kemunafikan?
Tulisan ini adalah sebagai perenungan menyongsong penangkuhan dan pengukuhen pertua diaken pada tanggal 19 September 2004 yang akan datang.
APA YANG KITA PERJUANGKAN
Oleh : Daulat Ginting


Sebagian orang Kristen cenderung melewati hidup ini dengan berfikir: ”Yang paling penting adalah memperoleh keselamatan. Tetapi bukankah keselamatan itu sudah disediakan oleh Kristus?. Jadi tidak perlu repot. Kita sudah selamat.
Tidaklah sesederhana itu!.
Tidak berarti segala sesuatu menjadi baik, indah dan menyenangkan.
Selama kita masih di bumi, kita berada di medan perang, bercampur baur dengan kekerasan, penderitaan, kegagalan, dan pencobaan. Senjata-senjata iblis masih berbahaya dan nyata.
Benar, bahwa kemenangan Kristus telah diperoleh di atas Bukit Kalvari, tapi pertempuran belum selesai. Pada suatu hari di masa depan, Kristus yang menang akan melemparkan iblis dengan kepala di bawah ke dalam lautan api yang kekal, dan akhirnya semua selesai. Hari itu akan datang. Tetapi belum disini.
Dunia ini hanya merupakan tanah bayang-bayang sebuah ruang depan, jalan masuk ke dunia yang sesungguhnya dan kehidupan sesungguhnya yang akan datang. Kita cenderung membayangkan hidup ini adalah hidup yang sesungguhnya dan setelah semuanya berakhir lantas kitapun menyelinap ke sorga.
Sebagai orang Kristen, kita harus memandang jauh dalam hidup ini. Ibarat naik ke gunung dan menatap ke kedalaman “keabadian”, kemudian kita melakukan pemilihan keputusan. Kita harus segera membuat keputusan yang antara lain menolak mencari kesenangan sendiri, tetapi menderita sengsara sebagai prajurit yang baik dari Allah yang hidup.
Kehidupan orang Kristen bukanlah pemenuhan kepuasan pribadi. Dengan cara yang sama, hidup kita bukanlah tentang kepuasan atau pemenuhan atau kebahagian kita.
Kita boleh belajar dari Nabi Musa. Musa mengubah garis dasar kehidupannya, apakah kita melihatnya? Ia menyerahkan kekayaan Mesir. Lihat kekayaan Firaun Mesir saat ini, ribuan tahun kemudian, orang-orang masih antri panjang untuk melihat kekayaan yang luar biasa itu dan masih menakjubkan dunia. Itu semua telah dikorbankan Musa untuk suatu hadiah di masa depan. Untuk hadiah abadi. Musa memfokuskan diri dan melihat, yang tak kelihatan.
Dan petunjuk Allah, inilah sungguhnya kehidupan orang Kristen, memalingkan pandangan kepada kekayaan yang sebenarnya dalam Kristus. Allah mempercayakan kekayaan besar kepada kita, sementara orang-orang lain menggantungkan hidup pada harta dengan jumlah yang juga tidak berarti.
Orang Kristen, pandanglah ke luar sana. Pandanglah ke arah kejauhan. Jangan hidup hanya untuk apa yang di depan kita, tapi carilah gambar yang lebih besar. Bayangkanlah “Keabadian” dan “Kekekalan”. Kita harus belajar, seperti yang disarankan oleh Paulus, untuk “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” [2 Kor 4: 18].
Ketika Anda dan saya memasuki kehadiran Allah yang hidup, banyak hal akan berubah. Salah satunya, perspektif-perspektif kita, dan juga sistem nilai kita. Oleh karena itu, jangan membuang hidup atau menghabiskan diri pada waktu yang menyenangkan disini, untuk beberapa dekade pendek saja. Tabunglah dalam sesuatu yang kekal!.
Fokus yang jelas dari pencarian kita akan kehendak Allah adalah Alkitab. Alkitab adalah alat untuk menguduskan kehidupan kita (instrument of sanctification) [Yoh 17: 17].
Apakah yang harus kita perjuangkan???
Mencari apa yang dirancang Tuhan [Yesaya 30:1] Rancangan manusia bersifat duniawi, tetapi rancangan Tuhan bersifat kekal, lebih kuat dan berkuasa. Hidup manusia hanya dapat berjalan sesuai dengan rancangan Tuhan.
Kita bukan mencari “the secret will of God” (kehendak Tuhan yang tersembunyi), tetapi “the revealed will of God” (kehendak Tuhan yang dinyatakan) di dalam Firman Tuhan. The secret will of God hanya diketahui sesudah kita mengalami atau melewatinya.
Apa yang menjadi kehendak Allah untuk dilakukan sudah dinyatakan di dalam Alkitab dan jika kita melakukannya dengan taat, maka kita tidak akan terjebak dalam jalan buntu. Jika kita tidak taat dalam hidup ini, kita masuk dalam dosa rahasia yang disengaja, maka pesan bagi kita adalah tentang sesuatu yang menakutkan.
Namun, Tuhan tidak akan melalaikan orang-orang yang sudah menderita demi nama-Nya. Orang-orang yang bertahan dalam nama Allah dan dengan kuasa-Nya, akan dihormati oleh tahta-Nya di luar kuasa kata-kata untuk menjelaskannya.
Kita akan mendapat penghiburan besar seperti sumur artesis berisi air yang dingin. Bagi kita itu merupakan hari pembayaran yang mengembirakan, perayaan yang penuh sukacita karena kita berada dalam penyembahan dan pujian bagi Sang Raja.
Kerinduan kita tidak akan menjadi lembab, seperti tertulis dalam Titus 2: 11-14, yaitu: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri yang rajin berbuat baik”.
Pikirkanlah tentang itu. Harapan sorgawi menunggu kita!. Harapan hadiah kekal bersinar di kejauhan seperti bintang yang dapat digapai. Dan setiap orang dari kita hanya selangkah jauhnya dari berdiri di hadirat Penebus dan Tujhan kita. Mari kita buat hari ini berarti.

MENGAPA KITA MASIH BERBUAT DOSA?
Oleh: Jendamita Brahmana

1Yohanes 3:9 “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi, sebab benih Ilahi tetap ada dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa lagi, karena ia lahir dari Allah”
Kita yang percaya Kristus pasti menerima apa yang disampaikan oleh Yohanes bahwa anak-anak Allah Allah tidak dapat berbuat dosa lagi? Namun faktanya orang yang sudah lahir baru, dipenuhi Roh Kudus dan yang melayanipun masih berbuat dosa. Apakah dengan kita masih berbuat dosa, kita bukan lagi anak-anak Allah? Tidak demikian, Firman Tuhan dalam Yohanes 1: 12 “Setiap orang yang menerima Kristus dan percaya dalam nama-Nya diberi kuasa jadi anak Allah?
Lantas apakah kita tetap berbuat dosa? “Dalam penantian hari Tuhan, kita harus berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bernoda dihadapan-Nya” [2 Petrus 3:14].
Marilah kita berusaha untuk tidak jatuh ke dalam dosa lagi, karena dosa adalah pelanggaran hukum Allah dan berasal dari iblis. Beberapa ayat menunjukkan bahwa kita tidak berbuat dosa lagi, jika:
1. “Lidah” [Yakobus 3: 6]: Lidah sangat berperan menjatuhkan manusia dalam dosa. Lidah adalah pendusta sama seperti iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta. Oleh karena itu, kita haruslah berusaha mengendalikan lidah kita yang berdusta dengan lidah yang mengatakan kebenaran. Firman Tuhan mengatakan: “katakan “Ya” di atas “Ya”, katakan “tidak” di atas “tidak”. Selain itu dosa.
2. “Kasih” [I Petrus 4:8b]: “Sebab Kasih menutupi banyak sekali dosa”. Bila kita memiliki Kasih Kristus yang melimpah, kita tidak akan jatuh dalam dosa. Sebab kita tidak akan menghakimi, mencelakakan dan merugikan orang lain, melainkan berusaha menolong, membangkitkan dan melengkapi orang lain. Sedangkan iblis tidak punya kasih sama sekali. Iblis sebagai pencuri, datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. [Yoh 10: 10]. Oleh karena itu, kejarlah “Kasih” [I Kor 14: 1] dan siapa yang mengejar “Kasih” akan beroleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan [Amsal 21: 21]. Kejarlah Kasih “dengan terus-menerus mengampuni”. Kalau kita mengampuni berarti kita sedang menarik Kasih dari Sorga.
3. “Otoritas dan Kuasa” [Mazmur 110: 2]: “Tongkat kekuatanmu akan diulurkan Tuhan dari Sion, memerintahlah diantara musuhmu”. Tongkat adalah lambang kekuasaan (otoritas).
Roh Kudus sebagai jaminan kuasa dan otoritas kita melawan musuh-musuh bahkan memrintah atas mereka. Musuh tersebut adalah “iblis” [Yakobus 4:7, “keduniawian” [Yoh 15: 18-19] dan “kedagingan” [Roma 8: 6-8]. Kalau kita mengandalkan Kuasa Roh Kudus, kita tidak akan jatuh dalam dosa.
4. “Penderitaan” [I Petrus 4: 1 cd] : “Karena barang siapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa”. Alkitab mengatakan, kita harus mempersenjatai diri dengan pikiran yang demikian sehingga menjadikan kita mampu mengucap syukur sekalipun kita menderita karena kebenaran. Mengucap syukur berarti kita menghentikan perberbuatan dosa seperti bersungut-sungut, menyalahkan orang bahkan menyalahkan Tuhan.
Kiranya kebenaran Firman Tuhan ini menolong kita agar mampu menang atas dosa yang merintangi kita sehingga kita tidak berbuat dosa lagi.

TENAGA DETASEER PI
Oleh: Pt. Bestari Sembiring

Salah satu tugas Gereja sesuai dengan Tri Tugas Gereja adalah bersaksi, yaitu menyaksikan nama Tuhan Yesus bagi orang yang belum mengenal-Nya. Salah satu bentuknya adalah “Pemberitaan Injil”. Lebih kurang 5 tahun Runggun GBKP Rawamangun Pulomas telah menempatkan Tenaga Detaseer Perkabaran Injil di Sumatra Utara, yakni di daerah Langkat. Daerah ini dipilih dengan pertimbangan masih banyak masyarakat, terutama suku Karo belum mengenal dan menerima Injil dan Kabar Baik.
Dalam perjalanannya, tenaga Detaseer masih menjadi silang pendapat terutama menyangkut masalah pelaksanaannya. Namun sejauh ini, tenaga Detaseer ini masih terus dilanjutkan dan juga di masa yang akan datang.
Hal ini perlu dilakukan karena Rasul Paulus dalam Roma 10: 14-15, mengatakan: “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?”. Bagaimana mereka percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberiktakan-Nya. Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus. Seperti ada tertulis:” Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik”.
Tulisan di atas bisa kita lanjutkan:” Bagaimana mereka di utus bila tidak ada dana?.Tim PI Rawamangun mengucapkan terima kasih kepada saudara yang telah ikut dalam Tim PI dan kepada saudara yang sudah dengan senang hati mengambil bagian dalam pendanaan Tenaga Detaseer PI.
Harapan kita, nama Tuhan terpuji dan lebih banyak lagi saudara kita yang diselamatkan.
Kepada saudara yang belum mengambil bagian marilah masing-masing kita turut mengambil bagian dalam mengutus saudara kita berangkat.

PERTOBATAN DUA DUKUN
Pt. Alex T. Tarigan

Tahun 2002 yang lalu, Tim PI Klasis Jakarta-Palembang mengutus Jemaat 20 orang ber-PI ke GBKP Klasis Lau Baleng. Di suatu desa tepatnya Desa Mbalmbal Petarum, dimana merupakan lokasi pelayanan Pt. Bestari Sembiring/ Nora Dr. Maria Magdalena Sembiring dijumpai dua orang ibu sebagai dukun. Atas pelayanan hamba Tuhan ini, kedua ibu ini mau bertobat untuk melepaskan semua perdukunannya (bertobat).
Untuk itu, kami dari Desa Kinangkong (Pt. Alex T. Tarigan/Nora Bunga Pelawi) bekerja sama untuk pelayanan pelepasan tersebut. Pelayanan pertama dilakukan terhadap dukun (A), yaitu isteri Kepala Desa. Ia dapat melihat roh-roh yang gentayangan (dua lapis pengenen matana) dan lehernya dapat bersuara (bersaika-saika). Sebagaimana biasanya, pelayanan seperti ini dilakukan dengan menjelaskan sampai ia memahami bahwa perdukunan itu benar-benar suatu kekejian di mata Tuhan (Ul 18 : 9-12).
Setelah ibu ini sungguh-sungguh mengaku mau bertobat dan mengaku dosa-dosanya serta mau mengikut/setia pada Kristus, lalu diminta pengakuannya atas dosa-dosanya terutama kemana saja ia pernah meminta ilmu pada dukun-dukun. Ada puluhan dukun yang ia ingat dan mulailah ia melakukan pengakuan dosa dengan menyebut ke dukun mana ia berguru. Beberapa dukun telah diakuinya kepada Tuhan, tapi tiba pada nama suatu dukun ia terdiam dan diulangi kembali tetap saja diam sehingga dengan suara keras dipaksa ia mengaku. Apa yang terjadi?
Dari posisi duduk ia jatuh terlentang kebelakang dan terlihat seperti kejang. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi kami dan dengan berserah pada Roh Kudus, kami melakukan pencetan di atas lutut sampai kepaha sehingga ia menjerit keras dan pada saat itu pulalah kami mengusir (menengking) roh jahat itu. Ia langsung terlihat lemah (lemas) dan pada saat itu atas nama Yesus kami perintahkan ia duduk sambil tertunduk. Kemudian dilanjutkan dengan pengakuan dosa lainnya.
Setelah dilakukan pengakuan dosa, kami rasakan Roh Kudus menyatakan agar menyiapkan minyak urapan dan air urapan. Maka minyak urapan dioleskan pada mata dan leher Roh Kudus menuntun kami dalam dialog selanjutnya, yakni “Apakah ibu mempunyai sawah dan disana ada gubuk ?“. Dia menjawab “Ya“. Adakah sesuatu yang yan luar kebiasaan terjadi disana? tanya kami. Semula ia menjawab bahwa semuanya biasa-biasa saja tapi kami mendesak agar ia mengingat-ingat lebih sungguh-sunguh, dan akhirnya ia ingat dan mengaku bahwa pada saat ia membongkar tumpukan bekas gubuk itu, dia menemukan ular yang sangat besar yang membuat ia sangat terkejut (birawan). Untuk menghilangkan keragu-raguan dan rasa takut, kami suruh agar dilakukan percikkan air urapan disana dan ia bertekat akan melakukannya, jawabanya.
Pada tahun 2003, kami mendapat berita bahwa keluarga ibu tersebut telah rajin ke gereja, “Puji Tuhan”.
(bersambung)

PEDULI KASIH
Oleh: Pt. Bestari Sembiring

Pada bulan Juli-Agustus 2003, kami mengikuti Tim PI Klasis Jakarta-Palembang ke Klasis Lubuk Pakam. Sebagai Tim Pengobatan Masal merangkap Pekabaran Injil, kami lebih banyak berada di Runggun GBKP Tiga Juhar dan menginap di rumah Pendeta Roslina Sembiring.
Seorang pemuda bernama Rafles Barus, terbaring cukup lama karena sakit akibat kecelakaan yang dialaminya sewaktu masih bekerja di Jakarta pada sebuah perusahaan keluarga. Kaki kanan yang patah dan luka terbuka yang dialaminya harus diamputasi menurut dokter RS UKI yang merawatnya pada waktu itu. Orang tua tidak setuju dengan amputasi yang diusulkan, lalu diputuskan untuk memasang “pen besi” yang mengakibatkan rasa sangat sakit, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibawa kembali ke Tiga Juhar dengan harapan pengobatan tradisional.
Namun, dalam perjalanan pulang dengan Kapal, Rafles Barus merasakan kesakitan yang amat sangat, sehingga setibanya di Medan dilakukan pengoperasian ulang di RS Siti Fajar, ternyata karena kesalahan pemasangan pen besi. Segala biaya ditanggung pihak keluarga.
Lalu, pengobatan dilakukan di rumah secara kedokteran dan tradisional, tetapi kondisinya bertambah buruk. Daging tambah membusuk, berbau dan besi pen sudah kelihatan dan ditutup dengan tudung kain kasa untuk menghidari lalat.
Kehidupan ekonomi keluarga dari hasil pertanian semakin terkuras dengan adanya musibah tersebut. Saran Tim PI agar diamputasi tidak disetujui orang tua karena biaya operasi ulang di Medan membutuhkan biaya Rp. 7 juta.
8Keluarga ini adalah anggota GBKP Tiga Juhar. Namun selama berbulan-bulan tidak mendapat perhatian karena yang bersangkutan terlihat jarang bersekutu dengan jemaat disana.
Tim PI telah menyarankan kepada Pendeta agar Runggun Gereja memberikan perhatian dan Mamre mengirim surat ke Runggun mengenai masalah tersebut.
Dalam kebaktian Minggu dimana kami sebagai pembawa Firman, diadakan sumbangan spontanitas dari jemaat untuk biaya pengobatan tersebut dan terkumpul Rp. 1 juta. Sebelumnya Nora telah menghubungi dokter bedah di Medan yang kebetulan masih saudara, dan disanggupi biaya keseluruhan Rp. 2 juta tanpa honor dokter.
Pihak orang tua diyakinkan terus. dan pada hari perpisahan Tim dengan Klasis dan Runggun Tiga Juhar, sehabis kebaktian yang bersangkutan hadir dan telah memberikan persetujuannya. Jemaat beserta Tim mengadakan pengumpulan dana dan terkumpul Rp. 2 juta sehingga dana yang tersedia menjadi Rp. 3 juta.
Pelaksanaan amputasi dilakukan di RS Siti Fajar, Padang Bulan, sewaktu kami masih berada di Medan dan berjalan dengan baik. Sekarang Rafles Barus telah sehat kembali. Satu hal yang masih perlu dibantu untuk saudara kita ini adalah sebuah kaki palsu untuk menyempurnakan peduli kasih kita.
Kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk kita, patutlah kita balas dengan mengucapkan syukur dan peduli terhadap saudara kita. Dalam 1Petrus 1: 22 disebutkan: ”Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu

TERSENYUM SAMBIL MERENUNG



TIDUR

Seorang penanggung jawab pengungsi korban banjir sedang bertanya kepada seorang pendeta: “ Kalau boleh saya tahu, gereja bapak ini dapat menampung berapa orang untuk tidur?”
Pendeta itu mengkerutkan keningnya, mencoba mengira-ngira. Setelah hitungannya dirasa akurat barulah ia menjawab lantang, “kalau tidak salah, setiap minggunya, di gereja ini yang tidur kira-kira 50-60 orang Pak!”

BILUR

Seorang pendeta sekali waktu mendoakan jemaatnya yang sedang sakit: “… dan karena bulir-bulirNya, engkau telah disembuhkan.” Dan tidak lama kemudian jemaat yang sakit itupun sembuh.
Beberapa hari kemudian, pendeta ini diminta kembali untuk mendoakan jemaat lain yang sakit. Dalam perjalanan, pendamping pendeta ini mengingatkan: “Pak Pendeta, tolong jangan salah ucap lagi. Yang betul itu bilur-bilur bukan bulir-bulir.”
Sang Pendeta menukas: “Ah, aku bilang bulir-bulir saja orang sembuh, apalagi kalau bilur-bilur.”

SAUDARA KEMBAR

Seorang guru sekolah minggu yang setengah mengantuk bertanya kepada muridnya. Namun, karena mengantuk pertanyaannya pun agak ngawur. “Ayo, coba sebutkan tokoh kembar dalam Alkitab?”.
Meski pertanyaannya salah, ada juga yang bisa menjawab. “Itu mudah, Bu.’
“Ayo coba jawab.”
“1 Samuel dan 2 Samuel,” jawab salah seorang murid percaya diri.

SEBAIKNYA ANDA TAHU

APA YANG BISA DIKERJAKAN KETIKA LANJUT USIA

Komodor Vanderbilt membangun hampir seluruh rel keretanya ketika ia berusia lebih 70 tahun
Filsuf Kant menulis karya-karya terbesarnya dalam bidang filsafat saat berusia lebih 70 tahun
Sastrawan Goethe menulis bagian kedua dari Faust ketika usainya 80 tahun
Penulkis Tennyson berumur 83 tahun ketika ia menulis Crossing the Bar
Negarawan Benjamin Franklin memberi sumbangsih terbesar bagi negerinya ketika ia menginjak usia 60 tahun
Gladstone terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris ketika berusia 83 tahun
John Glenn terbang kembali ke ruang angkasa di usia 75 tahun
Komponis Verdi menulis opera di usia 80-an
Pelukis Titian menciptakan The Battle of Lepanto di usia 95 dan Last Supper pada umur 99 tahun
Michaelangelo tetap menghasilkan adikarya kala usianya 89 tahun
Demikian juga Monet yang terus mencipta di usia 85 tahun
KAYA
Pada tahun 1923, sekolompok orang terkaya di dunia berkumpul di Hotel Edgewater Beach di Chicago, Illinois. Inilah orang-orang tersebut dan apa yang terjadi pada mereka.
Charles Schwab, presiden perusahaan baja terbesar, meninggal dalam keadaan bangkrut
Arthur Cutten, spekulator gandum terbesar, meninggal dalam keadaan bangkrut
Richard Witney, presiden New York Stock Exchange, meninggal setelah dibebaskan dari penjara Sing Sing
Albert Fall, anggota kabinet Amerika, diampuni dari hukuman penjara agar bisa meninggal di rumahnya sendiri
Jess Livermore, pialang yang dianggap paling hebat di Wall Street, meninggal karena bunuh diri
Ivan Krueger, orang kaya raya yang perusahaannya memegang monopoli, meninggal karena bunuh diri
Meski banyak orang yang berkata “Segalanya perlu uang,” namun “Uang ternyata bukan segalanya.”