PERTOBATAN DUA DUKUN
Pt. Alex T. Tarigan
Tahun 2002 yang lalu, Tim PI Klasis Jakarta-Palembang mengutus Jemaat 20 orang ber-PI ke GBKP Klasis Lau Baleng. Di suatu desa tepatnya Desa Mbalmbal Petarum, dimana merupakan lokasi pelayanan Pt. Bestari Sembiring/ Nora Dr. Maria Magdalena Sembiring dijumpai dua orang ibu sebagai dukun. Atas pelayanan hamba Tuhan ini, kedua ibu ini mau bertobat untuk melepaskan semua perdukunannya (bertobat).
Untuk itu, kami dari Desa Kinangkong (Pt. Alex T. Tarigan/Nora Bunga Pelawi) bekerja sama untuk pelayanan pelepasan tersebut. Pelayanan pertama dilakukan terhadap dukun (A), yaitu isteri Kepala Desa. Ia dapat melihat roh-roh yang gentayangan (dua lapis pengenen matana) dan lehernya dapat bersuara (bersaika-saika). Sebagaimana biasanya, pelayanan seperti ini dilakukan dengan menjelaskan sampai ia memahami bahwa perdukunan itu benar-benar suatu kekejian di mata Tuhan (Ul 18 : 9-12).
Setelah ibu ini sungguh-sungguh mengaku mau bertobat dan mengaku dosa-dosanya serta mau mengikut/setia pada Kristus, lalu diminta pengakuannya atas dosa-dosanya terutama kemana saja ia pernah meminta ilmu pada dukun-dukun. Ada puluhan dukun yang ia ingat dan mulailah ia melakukan pengakuan dosa dengan menyebut ke dukun mana ia berguru. Beberapa dukun telah diakuinya kepada Tuhan, tapi tiba pada nama suatu dukun ia terdiam dan diulangi kembali tetap saja diam sehingga dengan suara keras dipaksa ia mengaku. Apa yang terjadi?
Dari posisi duduk ia jatuh terlentang kebelakang dan terlihat seperti kejang. Hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi kami dan dengan berserah pada Roh Kudus, kami melakukan pencetan di atas lutut sampai kepaha sehingga ia menjerit keras dan pada saat itu pulalah kami mengusir (menengking) roh jahat itu. Ia langsung terlihat lemah (lemas) dan pada saat itu atas nama Yesus kami perintahkan ia duduk sambil tertunduk. Kemudian dilanjutkan dengan pengakuan dosa lainnya.
Setelah dilakukan pengakuan dosa, kami rasakan Roh Kudus menyatakan agar menyiapkan minyak urapan dan air urapan. Maka minyak urapan dioleskan pada mata dan leher Roh Kudus menuntun kami dalam dialog selanjutnya, yakni “Apakah ibu mempunyai sawah dan disana ada gubuk ?“. Dia menjawab “Ya“. Adakah sesuatu yang yan luar kebiasaan terjadi disana? tanya kami. Semula ia menjawab bahwa semuanya biasa-biasa saja tapi kami mendesak agar ia mengingat-ingat lebih sungguh-sunguh, dan akhirnya ia ingat dan mengaku bahwa pada saat ia membongkar tumpukan bekas gubuk itu, dia menemukan ular yang sangat besar yang membuat ia sangat terkejut (birawan). Untuk menghilangkan keragu-raguan dan rasa takut, kami suruh agar dilakukan percikkan air urapan disana dan ia bertekat akan melakukannya, jawabanya.
Pada tahun 2003, kami mendapat berita bahwa keluarga ibu tersebut telah rajin ke gereja, “Puji Tuhan”.
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar